BAB
II
PEMBAHASAN
A. KONSEP
DAN MAKNA BELAJAR
1. Konsep
belajar
Belajar
merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenan dengan tujuan dan bahan acuan
interaksi, yang baik bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi) untuk
menangkap isi dan pesan belajar maka dalam belajar tersebut individu
menggunakan kemampuan ramah.
a. Kognitif
yaitu kemampuan yang berkenaandengan pengetahuan, penalaran atau pikiran
sendiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan analisis dan evaluasi
b. Efektif
yaitu kemampuan yang mengutamakan, perasaan, emosi, dan reaksi yang berbeda
dengan dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi,
penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup.
c. Sikromatik
yaitu kemampuan yang mengutamakan ketrampilan jasmani terdiri dari persepsi,
kesiapan, gerakan terbimbing pola gerakan dan kreativitas.
Belajar
menurut B.F. Skinner 1958 adalah proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku
yang berlangsung secara progreset.
Menurut
skinner dalam belajar ditentukan hal-hal berikut:
a. Kesempatan
terjadinya peristiwa yang menimbulkan proses belajar
b. Respon
si pelajar
c. Konsekuensi
yang bersifat menggunakan respon tersebut baik konsekuensi nya sebagai hadiah
maupun teguran atau hukuman.
2. Makna
belajar
Belajar
itu senantiasa merupakan penambahan tingkah laku atau menampilkan, dengan
serangkaian kegiatan misalnya, dengan membaca, mengamati, mendengarkan dan
meniru.
Dilihat
dalam arti luas maupun terbatas/khusus dalam pengertian luas, belajar dapat
diartikan sebagai kegiatan psiko-diksi menuju perkembangan pribadi seutuhnya,
kemudian dalam arti sempit belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi
ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya
kepribadian seutuhnya. Dengan ini ada pengertian bahwa belajar adalah
“penambahan pengetahuan” untuk melengkapi pengertian mengenai makna belajar,
perlu kiranya dikemukakan prinsip-prinsip yang penting untuk diketahui antara
lain:
·
Belajar pada hakikatnya
menyangkut potensi manusia dan kelakuannya.
·
Belajar memerlukan
proses dan penahapan serta kematangan diri siswa.
·
Kemampuan belajar
seseorang siswa harus diperhitugkan dalam rangka menentukanisi pelajaran
·
Belajar dapat melakukan
tiga hal:
·
Diajar secara langsung
·
Control, kontak,
pengkhayatan, pengalaman langsung
·
Pengenalan dan/atau
peniruan.
B. PRINSIP-PRINSIP
PEMBELAJARAN
Prinsip-prinsip
pembelajaran adalah bagian terpenting yang wajib diketahui para pengajar
sehingga mereka bisa memahami lebih dalam prinsip tersebut dan seorang pengajar
bisa membuat acuan yang tepat dalam pembelajaran yang dilakukan akan jauh lebih
efektif serta bisa mencapai target tujuan. Dengan begitu pembelajaran yang
dilakukan akan jauh lebih efektif serta bisa mencapai target tujuan. Untuk
mengetahui lebih jelas mengenai apa saja prinsip-prinsip pembelajaran tersebut,
a. Prinsip
umum pembelajaran
1. Bahwa
belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen.
2. Peserta
didik memiliki potensi, gandrung, dan kemampuan yang merupakan benih kodrati
untuk ditumbuh kembangkan.
3. Perubahan
atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami linear sejalan proses
kehidupan.
b. Prinsip
khusus pembelajaran
1. Prinsip
motivasi dan perhatian
Dalam
sebuah proses pembelajaran, disini perhatian sangatlah berperan penting sebagai
awalan dalam memicu kegiatan belajar.sementara motivasi memiliki keterkaitan
dengan minat siswa, sehingga mereka mempunyai minat tiggi terhadap mata
pelajaran tertentu juga bisa menimbulkan motivasi yang lebih tinggi lagi dalam
belajar
2. Prinsip
keaktifan
Pada
hakikatnya belajar itu merupakan proses aktif yang mana seseorang melakukan
kegiatan untuk mengubahperilaku dan pemikiran menjadi lebih baik.
3. Prinsip
berpengalaman atau keterlibatan secara langsung
Jadi
prinsip ini erat kaitannya dengan prinsip aktivitas dimana masing-masing
individu haruslah terlibat langsung untuk merasakan atau mengalaminya. Adapun
sebenarnya di setiap kegiatan pembelajaran ituharuslah melibatkan diri kita
secara langsung.
4. Prinsip
pengulanagan
Prinsip
pengulangan disisni memang sangatlah pentingyang mana teori yang bisa kita
jadikan petunjuk dapat kita cermati dari dalil yang dikemukakan Edward L
Thorndike (1974-1949) yang telah memunculkan tiga dalil belajar, yaitu “Law of effect, law of exercise, and law of
readiness”.
5. Prinsip
tantangan
Penerapan
bahan belajar yang kita kemas dengan lebih menantang seperti halnya mengandung
permasalahan yang harus dipecahkan, maka para siswa pun juga akan tertantang
untuk terus mempelajarinya.
6. Prinsip
balikan dan penguat
Kita
tahu bahwa seorang siswa akan lebih semangat jika mereka mengetahui serta
mendapat nilai yang baik. Terlebih lagi jika hasil yang didapat sangat
memuaskan sehingga itu bisa menjadi titik baik yang akan sangat berpengaruh
untuk kelanjutannya.
7. Prinsip
pebedaan individual
Proses
belajar masing-masing individu memang tidaklah sama baik secara fisik maupun
psikis. Untuk itulah didalam proses pembelajaran megandung penerapan bahwa
masing-masing siswa haruslah di bantu agar lebih memahami kelemahan serta
kekuatan yang ada pada dirinya dan kemudian bisa mendapat perlakuan yang sesuai
dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
C.
PENDEKATAN
PEMBELAJARAN
- Pendekatan
Kontekstual
Pendekatan konstekstual berlatar
belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami
sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat,
dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi,
yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam
kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada
hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran
yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan
mengajar siswa.Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran
kontekstual,guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara
mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak
hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan,
keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang
dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen Dikdasmen,
2001: Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada
pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan
kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi
dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan
masyarakat luas. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa
dalam mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah
tim yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi
kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan
sendiri” dan bukan dari “apa kata guru.
Penggunaan pembelajaran kontekstual
memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan
keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta
kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka
sehari-hari melalui interaksi dengan sesame teman, misalnya melalui
pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum, 2002:6). Lebih lanjut
Schaible, Klopher, dan Raghven, dalam Joyce-Well (2000:172) menyatakan bahwa
pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dalam
penelitian dengan menghadapkan anak
didik pada bidang penelitian, membantu mereka mengidentifikasi masalah yang
konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk
merancang cara dalam mengatasi masalah.
- Pendekatan
Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan
berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan
tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).Piaget (1970), Brunner dan Brand 1966),
Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Menurut Caprio (1994), McBrien Brandt (1997),
dan Nik Aziz (1999) kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar
berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh
antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan
pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar. Menurut teori
konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan
berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru.
Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep
dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada
seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini
dikenali sebagai penalaan atau tuning. Seseorang
juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan
analogi, iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya.
Menurut Gagne, Yekovich, dan Yekovich (1993)
konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada
pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing. Pendekatan
konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar
digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan perkara yang
dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini,
pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu perkara. Kajian
Sharan dan Sachar (1992, disebut dalam Sushkin, 1999) membuktikan kumpulan
pelajar yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat
pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kumpulan pelajar yang
diajar menggunakan pendekatan tradisional. Kajian Caprio (1994), Nor Aini
(2002), Van Drie dan Van Boxtel (2003), Curtis (1998), dan Lieu (1997) turut
membuktikan bahwa pendekatan konstruktivisme dapat membantu pelajar untuk
mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan.
- Pendekatan
Deduktif – Induktif
- Pendekatan
Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai
dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal
pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses
pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah
persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna,2005).
b. Pendekatan Induktif
Ciri uatama pendekatan
induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun
konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan
data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
Prince
dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran
dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke
penerapan teori. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran
dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan
rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa, dan kurang atau
tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan
deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Bransford
(dalam Prince dan Felder, 2006) melakukan penelitian dibidang psikologi dan
neurologi. Temuannya adalah: ”All new learning involves transfer of information
based on previous learning”, artinya semua pembelajaran baru melibatkan
transfer informasi berbasis pembelajaran sebelumnya.
Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran
dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep.
Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Contoh urutan pembelajaran:
(1) definisi
disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan
siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang
disampaikan. Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan
pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa
contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri,
pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran
berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan
induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan
menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual,
siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur berdasar
pengamatan siswa sendiri.
Major (2006) berpendapat bahwa
pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau
generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh atau kasus
khusus menuju konsep atau generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan
yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. Siswa tidak harus
memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi
tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati. Dalam fase
pendekatan induktif-deduktif ini siswa diminta memecahkan soal atau masalah.
Kemp (1994: 90) menyatakan ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas
materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. Pada prinsipnya
matematika bersifat deduktif. Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir
deduktif. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang
berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal
yang bersifat khusus” Soedjadi (2000: 16). Dalam kegiatan memecahkan masalah
siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif,
pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian.
- Pendekatan
Konsep dan Proses
- Pendekatan
Konsep
Pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan
melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran
tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa
metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.
b. Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama
pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses
seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan
mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan
sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan
langsung siswa dalam kegiatan belajar. Dalam pendekatan proses, ada dua hal
mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam
pendidikan. Pertama, proses mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu
pengalaman pribadi bagi peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan
akan menjadi bagian integral dari diri peserta didik; bukan lagi
potongan-potongan pengalaman yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya
bukan miliknya sendiri. Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri
peserta didik dalam setiap proses pendidikan yang dialaminya
- Pendekatan
Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
National Science Teachers Association (NSTA) (1990
:1)memandang STM sebagai the teaching and learning of
science in thecontext of human experience. STM dipandang
sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman
manusia. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas,
sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan
sehari-hari.Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE(2006:1) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread
realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society,
education must integrate acrossdisciplines. Dengan demikian,
pembelajaran dengan pendekatan STMharuslah diselenggarakan dengan cara
mengintegrasikan berbagaidisiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai
hubungan yangterjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti
bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi
masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap
hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan
pembelajaran di era sekarang ini.
Pandangan
tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006:
1), bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of
study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and
technology shape culture, values, and institution, and how such factors shape
science and technology. STM dengandemikian adalah sebuah
pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui
bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses
sosial di masyarakat, dan bagaimana situasi sosialmempengaruhi perkembangan
sains dan teknologi. Hasil penelitian dari National Science Teacher Association
( NSTA ) ( dalam Poedjiadi, 2000 ) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan
menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan
dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi
bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui
pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang
diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi
masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar