Kamis, 04 Juli 2019

Teks Eksposisi: Pengertian, Struktur, Ciri-Ciri, dan Jenis Teks Eksposisi

Pengertian teks eksposisi adalah suatu pengembangan paragraf dalam penulisan dimana isinya mengungkapkan gagasan, memberikan penjelasan atau pengertian dengan menggunakan gaya penulisan yang singkat, padat, dan akurat.
Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian teks eksposisi adalah sebuah paragraf yang berisi tentang informasi dan pengetahuan yang ditulis secara singkat, padat, akurat, serta mudah dipahami oleh setiap orang yang membacanya. Artinya, setiap orang yang membaca suatu teks eksposisi akan dapat memahami informasi yang terdapat di dalamnya.
Adapun tujuan dari teks eksposisi adalah untuk menjelaskan suatu informasi atau mengungkapkan gagasan secara singkat, padat , dan akurat sehingga para pembacanya mendapatkan ilmu pengetahuan baru mengenai suatu hal atau peristiwa secara rinci.
struktur teks eksposisi adalah sebagai berikut:

1. Thesis (Pernyataan Pendapat)

Tesis adalah bagian pembuka dari penulisan exposition text. Tesis merupakan pernyataan pendapat dari penulis secara pribadi tentang topik atau masalah yang dibahas.

2. Argument (Argumentasi)

Argumentasi adalah bagian dari penulisan exposition text yang berisi tentang alasan-alasan yang mendukung atau memperkuat pendapat penulis pada bagian tesis tadi. Argumentasi ini bisa diambil dari hasil penelitian para ahli, ataupun pendapat pakar di bidang tertentu sehingga memperkuat pendapat pribadi si penulis.

3. Reiteration (Penegasan Ulang Pendapat)

Reiterasi adalah penegasan kembali pendapat penulis pada bagian tesis sehingga pembaca dapat lebih memahami sepenuhnya isi dari teks tersebut. Biasanya reiterasi disertai dengan bukti-bukti pendukung, dan merupakan bagian dari kesimpulan suatu teks yang dibuat penulis.
Ciri-Ciri Teks Eksposisi
Jenis teks eksposisi memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis teks lainnya. Adapun ciri-ciri teks eksposisi adalah sebagai berikut:
  1. Penyampaian informasi dilakukan dengan cara singkat, padat, akurat, serta mudah dimengerti oleh pembacanya.
  2. Gaya penulisan yang digunakan dalam jenis teks ini sifatnya persuasif informatif atau mengajak orang lain.
  3. Penjelasan informasi pada jenis teks ini dipaparkan secara lugas dengan menggunakan bahasa baku dan sesuai EYD.
  4. Penyampaian informasi di dalam tulisan sifatnya objektif, tidak memihak, serta berdasarkan bukti yang konkret.
  5. Penjabaran informasi di dalam teks disertai dengan data-data akurat yang berasal dari sumber terpercaya sebagai pendukung isi tulisan.
  6. Fakta informasi yang diberikan banyak dipakai sebagai alat konkritasi dan kontribusi.

Kaidah Penulisan Teks Eksposisi

Pada umumnya terdapat tiga kaidah dalam penulisan exposition text. Adapun unsur kebahasaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Konjungsi

Konjungsi adalah bentuk kata penghubung yang sering dipakai dalam teks eksposisi. Kata penghubung yang digunakan pada jenis teks ini ada banyak sekali, yang digunakan untuk menunjukkan waktu, perbandingan, penjelasan, gabungan, dan lainnya. Misalnya kata “lalu”, “setelah” untuk kata penghubung waktu.

2. Pronomina

Pronomina adalah bentuk kata ganti pada suatu teks. Ada dua jenis pronomina, antara lain;
  • Persona, yaitu kata ganti untuk menunjukkan orang. Misalnya; kamu, dia, saya, ia.
  • Non-Persona, yaitu kata ganti untuk menunjukkan sesuatu yang bukan orang. Misalnya; di sana, di situ, di sini.

3. Leksikal

Leksikal adalah jenis kata yang menunjukkan kata kerja, kata sifat, kata benda, dan kata keterangan. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • Kata kerja; berlari, menulis, membaca, dan lain-lain.
  • Kata benda; batu, kayu, meja, piring, dan lain-lain.
  • Kata sifat; baik, buruk, cantik, menarik, dan lain-lain.
  • Kata keterangan; di sini, di situ, malam, pagi, dan lain-lain.
Jenis-Jenis Teks Eksposisi
  1. Berita, jenis teks yang isinya menyampaikan informasi suatu peristiwa atau kejadi. Jenis teks seperti ini banyak ditemukan dalam surat kabar atau koran.
  2. Ilustrasi, jenis teks yang digunakan untuk menggambarkan secara sederhana atau bentuk konkret suatu ide atau gagasan. Jenis teks ilustrasi biasanya menggunakan frasa penghubung dalam mendeskripsikan sesuatu kepada pembaca.
  3. Perbandingan, jenis teks yang dipakai untuk menjelaskan suatu pokok bahasan dengan memakai metode perbandingan.
  4. Proses, jenis teks yang isinya menjelaskan tentang tata cara atau panduan untuk melakukan sesuatu.
  5. Definisi, jenis teks yang isinya menjelaskan tentang pengertian dari suatu objek tertentu.
  6. Pertentangan, jenis teks yang berisi pertentangan antara suatu objek dengan objek lainnya. Biasanya teks ini memakai kata frasa penghubung, misalnya; akan tetapi, meskipun begitu, sebaliknya, dan lain-lain.
  7. Teks analisis, yaitu teks yang isinya menjelaskan tentang proses analisis suatu pokok bahasan yang dipisahkan menjadi beberapa sub-bagian untuk kemudian dikembangkan secara berurutan.

Cara Membuat Salad Buah Sendiri yang Segar

1. Cara membuat salad buah

Bahan:

  • Apel segar 200 g, kupas kulitnya lalu potong dadu
  • Melon segar 200 g, kupas kulitnya lalu potong dadu
  • Semangka 1 buah, kupas kulitnya lalu potong dadu
  • Mangga segar 200 g, kupas kulitnya lalu potong dadu
  • Pepaya segar 1 buah, kupas kulitnya lalu potong dadu
  • Anggur segar 200 g, belah jadi dua dan buang bijinya
  • Stroberi segar 20 g, belah jadi empat
  • Mayonaise 150 mlKeju parut
  • Kental manis vanila 1 kaleng
  • Jeruk nipis (optional)

Cara membuat:

  1. Setelah semua buah sudah dipotong-potong, masukkan dalam kulkas agar menjadi lebih segar dan dingin.
  2. Setelah itu campurkan buah-buahan dalam satu wadah.
  3. Campur mayonaise, kental manis, dan air perasan jeruk nipis bila suka.
  4. Keluarkan buah-buahan dari kulkas.
  5. Tuang saus salad.
  6. Taburi parutan keju sesuai dengan selera Anda.
Pada salad buah yang Anda buat sendiri, Anda bisa mengkreasikan isinya sesuai dengan buah kesukaan Anda. Bisa juga Anda tambahkan jelly dan nata de coco dalam salad Anda. Selain salad buah, kreasi salah lainnya adalah salad sayur.

Minggu, 10 Juni 2018

Cabang Linguistik

Cabang linguistik ialah morfologi, sintaksis, semantik, fonetik, pragmatik, dan analisis wacana. Dalam buku ini mengkaji tentang salah satu cabang linguistik yaitu fonetik. Fonetik merupakan ilmu tentang bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi adalah kesan pada pusat syaraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam getaran udara (Kridalaksana, 1993:27). Sedangkan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang berupa bunyi yang merambat melalui medium (perantara), medium bunyi berupa zat cair, padat, gas. Bunyi bahasa mengalami proses produksi, yaitu ketika manusia berkomunikasi dengan orang lain yang memanfaatkan udara sebagai energi utama. Setelah diproduksi biasanya dapat dikaji melalui tiga cara. Pertama, bagaimana bunyi bahasa itu dihasilkan dengan alat ucap? Kedua, bagaimanaa wujud bunyi bahasa secara fisik? Ketiga, bagaimana bunyi bahasa itu sampai ke telinga pendengar atau menurut mekanisme telinga manusia dalam penerimaan bunyi bahasa?
Hakikat bahasa adalah bunyi, bahasa yang digunakan manusia dalam berkomunikasi dalam dunia keilmuan termasuk salah satu objek yang dikaji. Buku ini terdapat sepuluh bab, yang masing-masing bab sudah ada penjelasan beserta latihan-latihan. Buku ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa terutama mahasiswa Bahasa Indonesia karena, buku ini menunjang pembelajaran dan lengkap dengan contoh soalnya. Contoh soal yang diajukan dalam buku ini berguna untuk mengukur daya tangkap mahasiswa setelah membaca buku ini.

Senin, 19 Maret 2018

Definisi morfologi, fonetik, fonemik, fonem, morfologi, sintaksis, semantik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.
Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian, yakni:
1. Fonetik
Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.
Macam –macam fonetik :
a. fonetik artikulatoris yang mempelajari posisi dan gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara atau bunyi bahasa
b. fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia
c. fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi dan terutama bagaimana otak mengolah data yang masuk sebagai suara
2. Fonemik
Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi-ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti.
B.     FONEM
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti. Fonemisasi adalah usaha untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata “cagar” dan “cakar”. Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/.
Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja. Fonem tidak memiliki makna, tapi peranannya dalam bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem [l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdiri sendiri, pastilah kita tidak akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonem tersebut kita gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan [h], maka fonem [l] dan [r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi orang Jepang kata marah dan malah mungkin mereka anggap sama karena dalam bahasa mereka tidak ada fonem [l].
Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: marilari, dari, tari, sari, jika satu unsur diganti dengan unsur lain maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan arti.
MORFOLOGI
Adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal Morfologi mempelajari seluk beluk bentuk serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik
Jenis-jenis Morfem
Berdasarkan criteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139). Agar lebih jelas, berikut ini sariannya.
1)         Ditinjau dari Hubungannya
            Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
a)         Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif(pengurangan). Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain. Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/  pada kata man dan men.
 Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Perhatikanlah bentuk-bentuk berikut !
Betina
/mov εs/
/fos/
/bon/
/sod/
/ptit/
Jantan
/mov ε/
/fo/
/bo/
/so/
/pti/
Arti
buruk
palsu
baik
panas
kecil
Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk betina’ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem jantan.
b)        Ditinjau dari Hubungan Posisi
            Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutansisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat  dilihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjukmerupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).
2)         Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau. Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar. Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan istilah akar; bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang, gurau dengan istilah pokok. Sementara itu Verhaar (1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi seperti belia, renta, siur yang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang, tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfem unik.
SINTAKSIS
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
STRUKTUR SINTAKSIS
Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang berkenaan dengan fungsi sintaksisNomina, verba, ajektifa, dannumeralia berkenaan dengan kategori sintaksis. Sedangkan pelaku, penderita, dan penerimaberkenaan dengan peran sintaksis. Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, dan intonasi; bisa juga ditambah dengan konektor yang biasanya disebut konjungsi. Peran ketiga alat sintaksis itu tidak sama antara bahasa yang satu dengan yang lain.
KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS
Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, penanda kategori sintaksis, dan perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis. Kata sebagai pengisi satuan sintaksis, harus dibedakan adanya dua macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas. Kata penuh adalah kata yang secara leksikal mempunyai makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah satuan. Yang termasuk kata penuh adalah kata-kata kategori nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan numeralia. Kata tugas adalahkata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat berdiri sendiri. Yang termasuk kata tugas adalah kata-kata kategori preposisi dan konjungsi
FRASE
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase tidak berstruktur subjek – predikat atau predikat – objek), atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.
KLAUSA
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frase, yang berungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan keterangan
KALIMAT
Dengan mengaitkan peran kalimat sebagai alat interaksi dan kelengkapan pesan atau isi yang akan disampaikan, kalimat didefinisikan sebagai “ Susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap ”. Sedangkan dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase, dan klausa) bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.
SEMANTIK
Semantik (dari Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.
:)

bahasa sebagai sistem




A.      Pengantar
B.      Bahasa itu sistem dari ( Aspek Ontologi )
C.      Bahsa itu  sistem dari ( Aspek Epistemologi )
D.      Bahasa itu sistem dari ( Aspek Aksiologi )
E.       Penutup
F.       Daftar Pustaka










A.      Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Hakikat bahasa : bahasa itu sistem.


B.      Bahasa itu sistem dari ( Aspek Ontologi )

Apakah Bahasa sistem itu ?

Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya
berhubungan secara fungsional.

C.      Bahasa itu  sistem dari ( Aspek Epistemologi )

Bagaimana bahasa sebagai sebuah sistem?

Sebagai sebuah sistem , bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola: tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari subsistem ;  atau sistem bawahan


D.      Bahasa itu sistem dari ( Aspek Aksiologi )

Manfaat bahasa sebagai sebuah sistem ?

Sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia dan sebuah kalimat bahasa Indonesia yang tersusun dengan benar menurut pada aturan kaidah bahasa Indonesia. Jika tidak tersusun menurut aturan atau pola tertentu , maka subsistem itu pun tidak dapat berfungsi. Artinya, subsistem yang satu terletak dibawah subsistem yang lain


E.       Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini, tentunya masi banyak lagi kekurangan dan kelemahannya, Sekian dan terima kasih.
F.       Daftar Pustaka
           Linguistik umum / penulis Abdul Chaer. – Jakarta: Rineka Cipta, 2012.


kurikulum dan pembelajaran






BAB II
PEMBAHASAN

A.     KONSEP DAN MAKNA BELAJAR
1.      Konsep belajar
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, yang baik bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi) untuk menangkap isi dan pesan belajar maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuan ramah.
a.       Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaandengan pengetahuan, penalaran atau pikiran sendiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan analisis dan evaluasi
b.      Efektif yaitu kemampuan yang mengutamakan, perasaan, emosi, dan reaksi yang berbeda dengan dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup.
c.       Sikromatik yaitu kemampuan yang mengutamakan ketrampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing pola gerakan dan kreativitas.
Belajar menurut B.F. Skinner 1958 adalah proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progreset.
Menurut skinner dalam belajar ditentukan hal-hal berikut:
a.       Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan proses belajar
b.      Respon si pelajar
c.       Konsekuensi yang bersifat menggunakan respon tersebut baik konsekuensi nya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman.
2.      Makna belajar
Belajar itu senantiasa merupakan penambahan tingkah laku atau menampilkan, dengan serangkaian kegiatan misalnya, dengan membaca, mengamati, mendengarkan dan meniru.
Dilihat dalam arti luas maupun terbatas/khusus dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-diksi menuju perkembangan pribadi seutuhnya, kemudian dalam arti sempit belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Dengan ini ada pengertian bahwa belajar adalah “penambahan pengetahuan” untuk melengkapi pengertian mengenai makna belajar, perlu kiranya dikemukakan prinsip-prinsip yang penting untuk diketahui antara lain:
·        Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusia dan kelakuannya.
·        Belajar memerlukan proses dan penahapan serta kematangan diri siswa.
·        Kemampuan belajar seseorang siswa harus diperhitugkan dalam rangka menentukanisi pelajaran
·        Belajar dapat melakukan tiga hal:
·        Diajar secara langsung
·        Control, kontak, pengkhayatan, pengalaman langsung
·        Pengenalan dan/atau peniruan.

B.     PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN
Prinsip-prinsip pembelajaran adalah bagian terpenting yang wajib diketahui para pengajar sehingga mereka bisa memahami lebih dalam prinsip tersebut dan seorang pengajar bisa membuat acuan yang tepat dalam pembelajaran yang dilakukan akan jauh lebih efektif serta bisa mencapai target tujuan. Dengan begitu pembelajaran yang dilakukan akan jauh lebih efektif serta bisa mencapai target tujuan. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai apa saja prinsip-prinsip pembelajaran tersebut,
a.       Prinsip umum pembelajaran
1.      Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen.
2.      Peserta didik memiliki potensi, gandrung, dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuh kembangkan.
3.      Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami linear sejalan proses kehidupan.
b.      Prinsip khusus pembelajaran
1.      Prinsip motivasi dan perhatian
Dalam sebuah proses pembelajaran, disini perhatian sangatlah berperan penting sebagai awalan dalam memicu kegiatan belajar.sementara motivasi memiliki keterkaitan dengan minat siswa, sehingga mereka mempunyai minat tiggi terhadap mata pelajaran tertentu juga bisa menimbulkan motivasi yang lebih tinggi lagi dalam belajar
2.      Prinsip keaktifan
Pada hakikatnya belajar itu merupakan proses aktif yang mana seseorang melakukan kegiatan untuk mengubahperilaku dan pemikiran menjadi lebih baik.
3.      Prinsip berpengalaman atau keterlibatan secara langsung
Jadi prinsip ini erat kaitannya dengan prinsip aktivitas dimana masing-masing individu haruslah terlibat langsung untuk merasakan atau mengalaminya. Adapun sebenarnya di setiap kegiatan pembelajaran ituharuslah melibatkan diri kita secara langsung.
4.      Prinsip pengulanagan
Prinsip pengulangan disisni memang sangatlah pentingyang mana teori yang bisa kita jadikan petunjuk dapat kita cermati dari dalil yang dikemukakan Edward L Thorndike (1974-1949) yang telah memunculkan tiga dalil belajar, yaitu “Law of effect, law of exercise, and law of readiness”.
5.      Prinsip tantangan
Penerapan bahan belajar yang kita kemas dengan lebih menantang seperti halnya mengandung permasalahan yang harus dipecahkan, maka para siswa pun juga akan tertantang untuk terus mempelajarinya.
6.      Prinsip balikan dan penguat
Kita tahu bahwa seorang siswa akan lebih semangat jika mereka mengetahui serta mendapat nilai yang baik. Terlebih lagi jika hasil yang didapat sangat memuaskan sehingga itu bisa menjadi titik baik yang akan sangat berpengaruh untuk kelanjutannya.
7.      Prinsip pebedaan individual
Proses belajar masing-masing individu memang tidaklah sama baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah didalam proses pembelajaran megandung penerapan bahwa masing-masing siswa haruslah di bantu agar lebih memahami kelemahan serta kekuatan yang ada pada dirinya dan kemudian bisa mendapat perlakuan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.

C.     PENDEKATAN PEMBELAJARAN
  1. Pendekatan Kontekstual
       Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan mengajar siswa.Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual,guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya  Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen Dikdasmen, 2001: Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata guru.
      Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesame teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum, 2002:6). Lebih lanjut Schaible, Klopher, dan Raghven, dalam Joyce-Well (2000:172) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dalam penelitian dengan  menghadapkan anak didik pada bidang penelitian, membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah.


  1. Pendekatan Konstruktivisme
       Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).Piaget (1970), Brunner dan Brand 1966), Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Menurut Caprio (1994), McBrien Brandt (1997), dan Nik Aziz (1999)  kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
       Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar. Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan atau tuning. Seseorang juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya.
        Menurut Gagne, Yekovich, dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing. Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu perkara. Kajian Sharan dan Sachar (1992, disebut dalam Sushkin, 1999) membuktikan kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan tradisional. Kajian Caprio (1994), Nor Aini (2002), Van Drie dan Van Boxtel (2003), Curtis (1998), dan Lieu (1997) turut membuktikan bahwa pendekatan konstruktivisme dapat membantu pelajar untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan.




  1. Pendekatan Deduktif – Induktif
    1. Pendekatan Deduktif
                   Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna,2005).
b.      Pendekatan Induktif
                   Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
         Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Bransford (dalam Prince dan Felder, 2006) melakukan penelitian dibidang psikologi dan neurologi. Temuannya adalah: ”All new learning involves transfer of information based on previous learning”, artinya semua pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajaran sebelumnya.
     Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Contoh urutan pembelajaran:
(1) definisi disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan. Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.
     Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati. Dalam fase pendekatan induktif-deduktif ini siswa diminta memecahkan soal atau masalah. Kemp (1994: 90) menyatakan ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif. Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus” Soedjadi (2000: 16). Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif, pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian.
  1. Pendekatan Konsep dan Proses
    1. Pendekatan Konsep
                  Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.
b.      Pendekatan Proses
                   Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri. Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam setiap proses pendidikan yang dialaminya

  1. Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
      National Science Teachers Association (NSTA) (1990 :1)memandang STM sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas, sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari.Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE(2006:1) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society, education must integrate acrossdisciplines. Dengan demikian, pembelajaran dengan pendekatan STMharuslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagaidisiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yangterjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan pembelajaran di era sekarang ini.
     Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006: 1), bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture, values, and institution, and how such factors shape science and technology. STM dengandemikian adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat, dan bagaimana situasi sosialmempengaruhi perkembangan sains dan teknologi. Hasil penelitian dari National Science Teacher Association ( NSTA ) ( dalam Poedjiadi, 2000 ) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari,


Teks Eksposisi: Pengertian, Struktur, Ciri-Ciri, dan Jenis Teks Eksposisi

Pengertian  teks eksposisi  adalah suatu pengembangan paragraf dalam penulisan dimana isinya mengungkapkan gagasan, memberikan penjelasan a...